3 kesalahan marketing yang mematikan startup

3 Kesalahan Marketing yang Mematikan Startup

Ada 3 kesalahan marketing yang dapat MEMATIKAN startup menurut sebuah artikel di Entrepreneur.com. Apa saja kesalahan-kesalahan tersebut?

  1. Terlalu awal untuk CAPER (Cari Perhatian) Media
  2. Terlalu sibuk untuk menumbuhkan jumlah likes/fans/followers/subscibers atau yang sejenisnya
  3. Terlalu mau eksis di berbagai platform internet

Ada pertanyaan yang masuk ke kami; Apa yang harus dilakukan startup untuk memasarkan produknya?

Sebenarnya artikel dari situs Entrepreneur.com sudah menjawabnya. Tetapi Garudapreneur akan membahas lebih detail maksudnya.

Benang merah dari 3 kesalahan tersebut di atas adalah startup kadang belum benar-benar paham apa yang dibutuhkan oleh pasar yang dibidiknya. Ibarat ingin segera punya pacar, tapi model pacar yang seperti apa masih belum tahu. Hanya ikut-ikutan teman genk yang satu per satu mulai punya pacar.

Read more

saat passion dibilang birahi

Saat Passion dibilang Birahi

saat passion dibilang birahiHal ini terjadi saat saya tampil sepanggung dengan para pakar IT senior Indonesia di Seminar Nasional & International Cyber Crime, Digital Forensic and Digital Era Challenges yang diselenggarakan oleh STMIK Insan Pembangunan. Bapak2 pakar IT membahas teknis dunia keamanan IT sedangkan saya membahas dunia entrepreneur. Bagaimana nyambunginnya?

Untunglah, ada satu kata yang dapat menghubungkan semua dunia sekaligus. Kata itu adalah Passion. Agar dapat membobol atau memperbaiki sistem keamanan dibutuhkan passion. Sama halnya dalam membangun bisnis, juga dibutuhkan passion.

Apa itu Passion?

“Sesuatu dorongan yang menggerakkan diri, membuat diri ini menggebu-gebu untuk melakukan sesuatu.” Ujar seorang mahasiswi manis yang duduk agak depan.

Read more

kini saat terbaik berbisnis tetapi

Kini Saat Terbaik Berbisnis, Tetapi….

kini saat terbaik berbisnis tetapiJika ada pertanyaan; kapan saatnya seseorang perlu mulai berbisnisnya sendiri? Mungkin sekaranglah saat! Alasannya?

Beberapa tahun belakangan merupakan masa yang paling mudah bagi setiap orang untuk memulai bisnisnya sendiri. Kemajuan teknologi telah mengikis berbagai hambatan untuk memulai usaha menjadi nyaris nol! Di sisi lain, kemajuan teknologi juga mulai menggerus berbagai bisnis yang terbilang telah lama beroperasi.

Sebelum tahun 2000-an, orang yang hendak mulai berjualan ataupun berbisnis masih memiliki tingkat hambatan yang tinggi. Dari modal untuk belanja barang (ada juga yang konsinyasi), tempat/lokasi untuk display barang, mencari pemasok, mungkin juga tenaga penjual dan lain sebagainya. Namun ada juga yang melakukannya secara gerilya, yaitu di rumah-rumah ataupun di arisan.

Setidaknya sekitar tahun 2007-2008, konsep toko online berbasis web mulai diperkenalkan di Indonesia. Saat itu memang belum sepopuler sekarang. Apalagi saat ini konsep toko online tidak melulu berbasis web. Sudah merambah ke Social Media dan Instant Messenger. Handphone (istilah kekiniannya gadget) sudah tidak lagi menjadi sekedar perangkat untuk bertelepon, tetapi telah berubah wujud menjadi mesin uang – kalau tahu caranya.

Read more

siklus product development tradisional

Faktor Utama Kegagalan Peluncuran Produk

siklus product development tradisionalPeluncuran produk, mungkin, merupakan saat-saat paling menegangkan dalam setiap perjalanan bisnis. Anda dan tim harap-harap cemas dan tangan yang mendadak dingin serta berkeringat menjelang saat-saat paling menentukan. Apakah semua usaha yang dicurahkan berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan mungkin hitungan tahun, akan berbuah manis atau pahit.

Terlepas saat ini Anda sedang merintis usaha (startup) ataupun Anda seorang eksekutif perusahaan yang bertugas untuk mengembangankan unit usaha ataupun produk baru, tulisan ini akan sangat membantu Anda mengurangi resiko peluncuran produk yang gagal. Dalam tulisan ini, kata produk mewakili barang maupun jasa.

Ada berbagai metode untuk meluncurkan produk. Namun sederhananya, metode yang ditempuh suatu bisnis dalam meluncurkan produk melalui serangkaian proses berikut:

  1. Requirements
  2. Development
  3. QA (Quality Assurance)
  4. Release

Mari kita tinjau satu per satu secara singkat. Read more

the rocky syndrome

The Rocky Syndrome

the rocky syndromeBagi yang belum nonton film Rocky III; ada banyak pelajaran menarik dari film ini. Bahkan soundstrack dari film ini “Eye of the Tiger” seolah menjadi lagu wajib yang diputar di acara-acara motivasi. Nah, ada satu pelajaran penting dari film tersebut yang berhubungan dengan dunia Startup. Agar memastikan dapat ‘nyambung’, mari kita simak penggalan kisah Rocky III…

Dalam film Rocky III dikisahkan mengenai kehidupan Rocky Balboa setelah menjadi juara dunia Kelas Berat, mengalahkan Apollo Creed. Rocky menikmati kehidupan yang berkelimpahan dan terkenal, mendapatkan kontrak iklan dan program-program televisi. Tipikal sebuah kehidupan seorang selebriti olahraga. Jauh terbalik dari kehidupan Rocky sebelum ia menjadi juara dunia Kelas Berat.

Sementara itu ada seorang petinju muda garang dengan prestasi cemerlang 10 kali menang KO secara berturut-turut. Nama petinju muda tersebut adalah James “Clubber” Lang. Lang kemudian menantang Rocky untuk bertarung dengan dirinya. Berbagai cara ditempuh Lang sehingga akhirnya Rocky setuju untuk bertarung dengannya.

Singkat cerita, pada pertarungan pertama Rocky dengan Lang, Rocky dikalahkan pada ronde kedua.

Read more

queue mobile apps

Queue Apps : Solusi Antrian yang FUN!

Apakah aktifitas mengantri jadi masalah buat kamu? Apalagi setelah capek-capek ngantri, eh malah ada yang menyerobot karena kelemahan sistem antrian jadul. Rasanya pasti duongkol buangets! Andaikan tidak perlu lagi mengantri…

Masalah ini coba dipecahkan melalui aplikasi yang digagas oleh trio mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual dari Universitas Bina Nusantara. Ide ini muncul dari hobi kuliner mereka yang membawa mereka pada masalah klasik resto yang ramai… mengantri.

Devi, Earlene dan Jessi melihat smartphone dapat menyelesaikan masalah antrian dengan cara yang jauh lebih fun; baik dari sisi yang ngantri ataupun si pemilik restoran. Kemudian munculah ide…

Queue Mobile Apps atau Queue merupakan wujud solusi dari permasalahan begitu banyak pecinta kuliner yang ogah mengantri!

Queue lahir dari program Garudapreneur Business Model Competition yang kemudian diinkubasi melalui Garudapreneur Bootcamp. Belum genap setahun sejak pengumuman pemenang Garudapreneur Business Model Competition yang lalu, Queue telah bekerjasama dengan lebih dari 30 resto di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Bahkan baru-baru ini Queue telah membantu mengelola antrian resto cheesecake asal Jepang yang membludak! Antrian mereka yang mencapai 500-an orang. Dengar-dengar, Desember 2016 ini salah satu jaringan restoran besar juga akan menggunakan Queue untuk pembukaan disalah satu cabang barunya.

Read more

mengelola keuangan usaha kecil

Mengelola Keuangan Usaha Kecil

Pada hari Minggu, 30 Oktober 2016, HIMME (Himpunan Mahasiswa Manajemen Ekonomi) Universitas Bina Nusantara bekerjasama dengan Garudapreneur menyelenggarakan pendidikan Mengelola Keuangan Usaha Kecil melalui HSR (HIMME Social Responsibility) di Sawangan, Depok.

Usaha kecil yang berkesempatan mendapatkan pendidikan Mengelola Keuangan Usaha Kecil kali ini adalah Sumber Rizki, sebuah Usaha kecil yang bergerak dibidang pengolahan bahan dasar rumput laut. Selain itu juga peserta lain dari berbagai industri, termasuk pemotongan hewan dan menjahit.

Kebanyakan permasalahan pengelolaan keuangan pada usaha kecil adalah:

  • Tidak memiliki pembukuan (sederhana).
  • Kurang disiplin dalam pembukuan.
  • Kurang tepat dalam menentukan harga modal (Harga Pokok Penjualan).

Read more

apa landasan bisnis model anda

Apa Landasan Bisnis Model Anda?

Yang penting BEDA?

Pengalaman kami sebagai juri dalam berbagai perlombaan startup membuat kami menemukan sebuah persamaan dari para peserta ketika mempresentasikan ide bisnis mereka, yaitu “Yang Penting Beda”. Karena landasannya adalah “Yang Penting Beda”, maka yang terjadi kemudian adalah perkara bisnis tersebut dapat berjalan atau tidak, menjadi terabaikan.

Pertanyaan paling dasar “Siapa calon pelanggan kamu?” seolah menjadi langkah awal menuju ladang pembantaian – “The Killing Field”. Karena pertanyaan-pertanyaan berikutnya hanya akan membuat peserta semakin terlihat seperti seorang anak TK yang sedang membujuk kawannya untuk ikut menyukai mainan barunya yang “beda”. Read more

bagaimana mewujudkan ide bisnis

Bagaimana Mewujudkan Ide Bisnis

Dalam banyak kejadian, ide bisnis tetap menjadi ide bisnis karena ada proses lain yang tidak dilanjutkan. Ide bisnis yang Anda miliki wujudnya masih sangat abstrak, masih jauh dari jelas. Anda perlu membuatnya menjadi konkrit. Proses merubah sesuatu yang abstrak menjadi konkrit membutuhkan ilmu dan keahlian tersendiri. Bila Anda memiliki ilmu dan keahlian ini, maka “nilai” diri Anda akan jadi sangat mahal.

Saat ini ada banyak model yang telah dibuat untuk membantu orang dalam mewujudkan ide bisnis mereka. Salah satu yang cukup populer dan sederhana adalah menggunakan Business Model Canvas (BMC) karya Alexander Osterwalder.

Apa Itu Model Bisnis?

Model bisnis belakangan ini telah menjadi kalimat yang sedang tren dikalangan entrepreneur, khususnya startup (usaha rintisan). Oleh karena itu sebelum kita membahas BMC, mari kita cari tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan model bisnis.

Read more

bagaimana menemukan ide bisnis

Bagaimana Menemukan Ide Bisnis

Tiga bab awal dari buku ini merupakan bab-bab berat yang menjawab pertanyaan mengapa sampai detik ini Anda masih belum memulai bisnis. Bila Anda sudah menyelesaikan tiga bab awal dan Anda masih tetap terus membaca. Kami berasumsi bahwa Anda tidak sakit hati dan sudah memiliki tekad yang cukup kuat untuk segera membangun bisnis idaman Anda dan membayar harganya.

Berbeda dengan bab-bab terdahulu, rangkaian bab yang akan datang isinya akan lebih ringan dan bersifat praktis. Meskipun sifatnya praktis namun tidak ada satupun obat mujarab yang dapat menyembuhkan semua penyakit. Sehingga mungkin Anda perlu melakukan penyesuaian sesuai dengan situasi Anda sendiri saat ini. Apabila Anda memiliki pengalaman managerial, ketika melakukan praktek akan lebih mudah lagi. Karena sesungguhnya Anda sudah lakukan semua. Bedanya, kalau selama ini Anda melakukannya untuk orang lain. Kali ini Anda melakukannya demi terwujudnya impian yang Anda idam-idamkan selama ini.

Mungkin saya agak berseberangan dengan kebanyakan orang yang menghina-hina karyawan atau kaum profesional dan memuja-muja pengusaha. Padahal pengalaman kerja di dunia profesional sangat membantu seseorang ketika suatu hari ia akan membangun bisnisnya sendiri. Untuk itulah, bila saat ini Anda masih dalam dunia profesional, ini kesempatan Anda belajar bukan hanya apa yang menjadi pekerjaan Anda, tetapi bagaimana sebuah sistem bisnis bekerja… dan dibayar pula, kapan lagi!

Pelajaran Seorang Karyawan

Read more