siklus product development tradisional

Faktor Utama Kegagalan Peluncuran Produk

siklus product development tradisionalPeluncuran produk, mungkin, merupakan saat-saat paling menegangkan dalam setiap perjalanan bisnis. Anda dan tim harap-harap cemas dan tangan yang mendadak dingin serta berkeringat menjelang saat-saat paling menentukan. Apakah semua usaha yang dicurahkan berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan mungkin hitungan tahun, akan berbuah manis atau pahit.

Terlepas saat ini Anda sedang merintis usaha (startup) ataupun Anda seorang eksekutif perusahaan yang bertugas untuk mengembangankan unit usaha ataupun produk baru, tulisan ini akan sangat membantu Anda mengurangi resiko peluncuran produk yang gagal. Dalam tulisan ini, kata produk mewakili barang maupun jasa.

Ada berbagai metode untuk meluncurkan produk. Namun sederhananya, metode yang ditempuh suatu bisnis dalam meluncurkan produk melalui serangkaian proses berikut:

  1. Requirements
  2. Development
  3. QA (Quality Assurance)
  4. Release

Mari kita tinjau satu per satu secara singkat.

Requirements

Pada tahap ini, dikumpulkanlah berbagai kebutuhan untuk menciptakan produk. Fitur-fitur apa saja yang akan diusung oleh produk, nantinya.

Development

Disini, produk dibuat berdasarkan spesifikasi pada tahap Requirements.

QA (Quality Assurance)

Setelah produk selesai dihasilkan, maka perlu diuji mutunya, termasuk seberapa tinggi tingkat cacat produksi.

Release

Apabila produk yang dihasilkan berdasarkan spesifikasi Requirements lulus uji kualitas (Quality Assurance) tertentu, maka produk layak untuk diluncurkan ke pasar.

Sekilas tidak ada yang salah dengan metodologi tersebut. Tampak sangat masuk akal bukan? Metodologi tersebut sudah tepat digunakan oleh perusahaan-perusahan jaman dahulu. Tidak cocok bila diterapkan di era dimana tingkat kompetisi tinggi disertai dengan perubahan pasar yang begitu cepat.

Lalu bagaimana solusinya?

Sebelum beranjak kepada solusinya, yang perlu kita pahami bersama adalah apa masalah dari metode tersebut. Setelah memahami permasalahannya, maka mencari solusinya akan lebih mudah.

Pembelajaran bagi perusahaan dalam mengembangkan produk pada metode diatas, biasanya terjadi sedikit diawal (tahap Requirements) dan diakhir (tahap Release). Dan pembelajaran terbanyak ada pada tahap Release, yang mana bukan hal menyenangkan bagi perusahaan. Sebuah kejutan yang tidak mengenakkan.

Mengapa banyak pembelajaran pada akhir?

Banyak bisnis yang menerapkan metode diatas terputus dengan pasar. Kontak dengan pasar biasanya terjadi pada tahap Requirements dan Release. Tahapan diantaranya, sibuk berada didalam gedung/tempat pengembangan atau apapun namanya. Padahal, selama keseluruhan proses tersebut berlangsung diperlukan kontak dengan pasar agar produk yang dikembangkan senantiasa sesuai dengan keinginan pasar.

Setelah mendapatkan Requirements, maka masuk ke tahap Development. Nah sebelum masuk ke tahap QA (Quality Assurance), apakah produk yang dibuat benar sesuai dengan keinginan pasar? Bila belum, maka perlu kumpulkan lagi dan perbaiki Requirement berdasarkan masukan pasar.

Kemudian setelah produk benar-benar sesuai dengan keinginan pasar, maka perlu diuji mutunya langsung di pasar. Dalam industri perangkat lunak, biasanya versi beta hingga Release Candidate dilepas ke publik agar pasar juga menguji mutunya.

Jika tingkat mutu tertentu tercapai atau dianggap layak, maka produk baru benar-benar diluncurkan ke pasar.

Inilah yang disebut sebagai Lean Methodology. Tentunya apa yang dipaparkan dalam tulisan ini telah disederhakan agar cepat dan mudah dipahami.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Leave a Reply