bagaimana mengatasi rasa takut memulai

Bagaimana Mengatasi Rasa Takut Memulai

Bila Anda masih meneruskan membaca hingga bab ini, kami berasumsi 2 (dua) bab pertama dari buku ini tidak mengusik perasaan Anda. Mudah-mudahan Anda semakin bersemangat menjadi seorang entrepreneur yang siap membayar harga. 🙂 Mari kita lanjutkan ke topik yang cukup banyak dialami oleh sejumlah orang yang hendak memulai bisnis.

Lagi-lagi survei membuktikan! Banyak orang tidak memulai bisnisnya, rupanya disebabkan oleh rasa ketakutan yang besar. Apakah ketakutan besar tersebut? Mereka membayangan situasi-situasi sulit akan melanda dirinya bila bisnis yang dirintisnya gagal. Uang yang ditabung bertahun-tahun dapat habis dalam hitungan bulan. Atau bila mereka meminjam dana dari pihak ketiga maka mereka akan terlibat hutang. Ibaratnya sudah jatuh ditimpa tangga pula.

Jangan merasa pesimis dan bersalah. Karena sesungguhnya rasa takut merupakan mekanisme alamiah kita untuk melindungi dirinya. Yang menjadi pertanyaan adalah: Bagaimana kita tahu ketika kita telah melewati batas dari rasa takut yang normal dan mana yang tidak? Sebab, bila kita tidak dapat membedakannya, sangat berpotensi menjadi gangguan yang menghambat kita untuk bertumbuh.

Sebelum kita dapat mengatasi rasa takut tersebut, mari kita kenali dahulu apa sesungguhnya yang dimaksud dengan rasa takut. Bila kita mengenal rasa takut ini dengan baik maka kita akan mampu mengatasinya.

Apa itu rasa yang bernama “Takut”?

Mari kita bayangkan sejenak sebuah situasi. Misalnya, Anda sedang berjalan-jalan di alam bebas. Situasi begitu menyenangkan. Meski matahari bersinar tetapi tetap sejuk, angin berhembus sepoi-sepoi dan terdengar nyanyian burung bersahut-sahutan dengan indahnya. Tiba-tiba… Anda merasakan ada sesuatu yang melintasi kaki Anda. Seekor ular muncul di kaki Anda! Anda seperti terbujur kaku, Anda dapat merasakan dengan jelas denyut jantung berdetak tidak seperti sebelum-sebelumnya dan Anda mulai berkeringat. Reaksi ini disebut sebagai ketakutan.

Selang beberapa minggu kemudian, Anda mengambil jalan yang sama lagi. Sinar matahari, angin sepoi-spoi, burung tetap berkicau dengan riangnya; tetapi kali ini tidak ada ular. Namun, entah mengapa Anda khawatir dan terbayang-bayang bahwa Anda seolah-olah akan bertemu dengan ular lagi. Pengalaman selama berjalan melalui jalan tersebut menjadi penuh dengan kekhawatiran. Inilah yang dinamakan kecemasan.

Ilustrasi di atas untuk menjelasan perbedaan sederhana antara ketakutan dan kecemasan. Membedakan kedua hal ini merupakan hal dasar untuk mendefinisikan dan mengatasi gangguan kecemasan. Karena masalah ini melanda jutaan orang di seluruh dunia dan dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk dari gangguan kejiwaan. Nah, loh!

Para ilmuwan umumnya mendefinisikan ketakutan sebagai keadaan emosional negatif yang dipicu oleh adanya stimulus (contohnya: ular) yang memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan. Sedangkan kecemasan sebagai keadaan emosional negatif di mana ancaman itu “tidak hadir” tapi diantisipasi.

Berdasarkan penjelasan di atas, mari kita telaah 2 (dua) ilustrasi berikut. Alan mengatakan bahwa ia takut bisnisnya gagal, padahal mulai saja belum. Sedangkan John takut ditolak pujaan hatinya, padahal nyatakan cinta saja belum. Nah, pada kedua ilustrasi tersebut, sebenarnya lebih tepat “cemas” alih-alih “takut”.

Mengkondisikan Kecemasan Tanpa Disadari

Hal lain yang perlu disadari adalah apa yang disebut sebagai pengkondisian. Masih ingat dengan eksperimen Ivan Pavlov? Seekor anjing dikondisikan dengan sengaja antara suara bel dan makanan. Setiap kali bel berbunyi dan anjing tersebut diberi makan, otak anjing membentuk hubungan antara suara bel dan makanan. Sampai suatu ketika bel dibunyikan, anjing secara otomatis mengeluarkan air liur sebagai tanda siap untuk makan. Padahal tidak ada makanan yang datang.

Percobaan Pavlov ini walaupun dilakukan pada hewan tetapi hal ini dapat saja terjadi pada manusia. Jangan sampai kita secara tidak sadar telah menciptakan sebuah pengkondisian atas rasa cemas. Kecemasan atas kegagalan yang belum tentu terjadi.

Bagaimana mekanisme pengkondisian ini dapat terjadi pada manusia? Ada sebuah bagian di otak yang disebut Amigdala. Amigdala ini menghubungkan dua peristiwa, membentuk sebuah memori tidak sadar dari sebuah situasi atau keadaan yang mengandung muatan emosi yang intens. Mari kita gunakan contoh sebelumnya. Ketika stimulus netral (contoh: jalanan di alam) terjadi, maka secara otomatis mengaktifkan Amigdala seperti menemui bahaya asli, memunculkan ketakutan, dan juga memicu kekhawatiran – kecemasan. Sifat otomatis proses aktivasi ini menyajikan fakta bahwa Amigdala melakukan tugasnya di luar kesadaran.

Ada orang yang bangkrut karena seluruh harta yang dikumpulkan bertahun-tahun habis hanya dalam sehari semalam ketika bermain valas (Valuta Asing). Setiap kali dia melihat layar monitor yang memampang informasi pergerakan kurs valuta asing, tanpa ia sadari kecemasan langsung menyergap. Padahal saat itu dia tidak dalam posisi memainkan uangnya.

Setiap hewan (termasuk serangga dan cacing, serta mahluk dengan kecerdasan yang lebih kompleks seperti manusia) lahir dengan kemampuan untuk mendeteksi dan menanggapi beberapa jenis bahaya, dan belajar mengenai hal-hal yang terkait dengan bahaya. Singkatnya, kapasitas takut (dalam arti mendeteksi dan merespon bahaya) cukup universal di antara hewan. Tapi kecemasan – pengalaman ketidakpastian – adalah hal yang berbeda. Hal ini tergantung pada kemampuan untuk mengantisipasi, kapasitas yang juga hadir pada beberapa hewan lainnya, tapi pada manusia ini berkembang dengan baik. Kita dapat memproyeksikan diri ke masa depan sedangkan makhluk lain tidak. Bagian otak ini disebut Prefrontal Neo Cortex. Dan bagian ini hanya ada pada mahluk yang bernama manusia!

Sementara kecemasan didefinisikan oleh ketidakpastian, kecemasan manusia sangat diperkuat oleh kemampuan kita untuk membayangkan masa depan, dan tempat kita di dalamnya, bahkan masa depan yang secara fisik tidak mungkin. Neo Cortex Prefrontal, membuat imajinasi kita mampu membayangkan dan membuat simulasi atas sebuah yang keadaan yang belum ada, bahkan mampu menciptakan masalah sekaligus alternatif solusi atas sebuah skenario yang mungkin mustahil.

Manusia dapat memetik keuntungan besar dalam penggunaan kapasitas kreatif ini bila digunakan untuk membayangkan bagaimana membuat hidup menjadi lebih baik. Tetapi juga dapat terjadi sebaliknya, digunakan untuk bekerja dengan cara yang kurang produktif, seperti kekhawatiran yang berlebihan atas sebuah hasil yang belum tentu terjadi.

Kekhawatiran akan beberapa hal pada hasil akhir adalah penting untuk mencapai keberhasilan dalam menghadapi tantangan dan peluang hidup. Tapi di beberapa kondisi, sebagian besar dari kita mungkin khawatir lebih dari yang diperlukan.

Pernahkah Anda membaca di media masa berita mengenai seorang ibu yang terlibat hutang besar kemudian melakukan bunuh diri? Dan ternyata ia juga turut membunuh ketiga anaknya yang masih kecil terlebih dahulu sebelum ia membunuh dirinya dengan minum racun serangga.

Ketakutan dan kecemasan ini termasuk di dalamnya fobia, gangguan panik, sindrom stres pasca-trauma. Anda pasti setuju bahwa hal-hal yang tadi disebutkan dapat mengganggu dalam menjalani tantangan hidup. Bila demikian mengapa Tuhan menciptakan bagian ini dalam otak manusia? Apa tujuannya?

Mengelola Rasa Takut

Mari kita bayangkan bila rasa takut ini dihilangkan dalam otak manusia. Anda melaju dalam mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Mobil Anda meliuk-liuk di antara mobil lain. Yang ada hanya sensasi kesenangan, tidak ada rasa takut. Tabrakan hebat dan kehilangan nyawa hanya tinggal masalah waktu saja. Anda membahayakan bukan saja diri Anda tapi juga nyawa orang lain. Itu sebabnya mengapa ada larangan tegas tidak boleh menjalankan kendaraan dalam keadaan di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan.

Banyak orang tidak mengerti fungsi dari rasa takut yang sebenarnya, akibat ketidaktahuan tersebut menyebabkan banyak orang menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan rasa takut (yang sebenarnya adalah kecemasan) hingga kecanduan obat-obatan. Rasa takut bukanlah untuk dihilangkan melainkan dikelola.

Rasa takut adalah sebuah rasa yang ditanamkan ke dalam otak manusia sebagai sensor penanda bahwa kita berada pada garis perbatasan antara Comfort Zone atau zona nyaman dan luar zona nyaman. Zona Nyaman adalah sebuah zona imajiner yang tidak terlihat. Walaupun tidak terlihat, comfort zone dapat diketahui dari sejumlah indikator rasa. Beberapa diantaranya adalah rasa aman, rasa tenang, dan rasa nyaman. Seperti halnya bila Anda berada dalam kamar pribadi, Anda dapat melakukan semua yang Anda suka dengan rasa aman tanpa ada gangguan. Tetapi coba Anda jangan berhubungan dengan dunia luar (tanpa sambungan internet, TV, radio, ponsel, dll) selama 2 (dua) hari saja. Bagaimana rasanya? Bosan! Tidak ada bedanya seperti Anda memenjarakan diri Anda sendiri. Rasa bosan sesungguhnya adalah tanda lain di dalam otak yang memberitahukan kepada manusia, bahwa ia sudah terlalu lama berada dalam zona nyaman.

Setiap orang sangat mengenal zona nyamannya masing-masing. Rasa aman memberikan pesan pada diri Anda bahwa segalanya dikenali dan terkendali. Saking amannya, sampai rasa bosan datang pun banyak orang tidak mau keluar dari zona nyaman ini.

Bagaimana ciri-ciri di luar zona nyaman? Yang pasti penuh ketidakpastian, ketidaktahuan, rasa asing, adanya tantangan dan ancaman. Semua rasa-rasa ini menghambat diri Anda untuk keluar dari zona nyaman. Begitu Anda ingin keluar dari zona nyaman, muncullah “rasa takut” sebagai bentuk antisipatif dari ancaman ketidakpastian yang akan Anda temui di luar. Otak reptil Anda secara otomatis menarik Anda masuk kembali ke dalam zona nyaman. Tidak apa-apalah bosan. Yang penting aman.

Seperti itukah skenario yang terjadi dalam keseharian hidup Anda? Setiap kali Anda merasa bosan dengan karir atau tidak puas dengan pekerjaan, lalu Anda mulai merasa bahwa sudah saatnya punya bisnis sendiri. Detik itu juga ada bagian dari otak Anda yang berbunyi dengan keras. Dan Anda mengenalinya sebagai sebuah situasi bahaya yang harus segera dihindarkan. Lalu Anda kembali lagi ke rutinitas (zona nyaman) ditambah lebih banyak omelan ke diri sendiri. Sementara para entrepreneur sukses mengenalinya situasi ini sebagai garis perbatasan untuk tumbuh dan berkembang lebih maju lagi.

Sementara orang-orang pada umumnya menggunakan Neo Cortex Prefrontalnya untuk menciptakan bayangan-bayangan yang dapat memicu kecemasan. Para entrepreneur sukses menggunakan Neo Cortex Prefrontalnya untuk menciptakan solusi-solusi atas kemungkinan masalah yang belum terjadi. Mental block yang muncul bukanlah untuk dihilangkan, melainkan perlu dipikirkan bentuk antisipasinya.

Dalam hal ini kebutuhan untuk melatih kesadaran menjadi sangat penting. Sesuatu yang tidak Anda sadari, sulit sekali untuk dikelola. Oleh karena itu hanya manusia dengan kewaspadaan tinggi yang mampu mengetahui bahwa ia sedang berada di dalam zona nyaman atau tidak. Ia mampu membedakan kecemasan dengan rasa takut yang muncul adalah sebagai tanda perbatasan antara zona nyaman dengan luar zona nyaman.

Bila seseorang sudah memiliki kemampuan membedakan hal ini, setidaknya ia mampu berpikir untuk mengatasi mental block yang menghambat dirinya untuk segera menjadi seorang entrepreneur! Dan ngomong-ngomong mengenai mental block, di From Idea to Startup, Anda akan diajak untuk melatih Neo Cortex Prefrontal dalam merancang hambatan-hambatan apa yang berpotensi muncul dan bagaimana cara mengatasinya, jauh sebelum Anda memulai bisnis.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Leave a Reply