apa landasan bisnis model anda

Apa Landasan Bisnis Model Anda?

Yang penting BEDA?

Pengalaman kami sebagai juri dalam berbagai perlombaan startup membuat kami menemukan sebuah persamaan dari para peserta ketika mempresentasikan ide bisnis mereka, yaitu “Yang Penting Beda”. Karena landasannya adalah “Yang Penting Beda”, maka yang terjadi kemudian adalah perkara bisnis tersebut dapat berjalan atau tidak, menjadi terabaikan.

Pertanyaan paling dasar “Siapa calon pelanggan kamu?” seolah menjadi langkah awal menuju ladang pembantaian – “The Killing Field”. Karena pertanyaan-pertanyaan berikutnya hanya akan membuat peserta semakin terlihat seperti seorang anak TK yang sedang membujuk kawannya untuk ikut menyukai mainan barunya yang “beda”.

Tidak ada yang salah dengan pendekatan “differensiasi” ini, karena hal ini merupakan salah satu dari pendekatan yang diusulkan oleh Mbah Manajemen Strategi – Michael Porter dalam bukunya Competitive Strategy agar dapat memenangkan persaingan; diperlukan pendekatan differensiasi ATAU pendekatan biaya termurah. Sementara ada pakar lainnya seperti Treacy & Wiersema menawarkan tiga pilihan strategi differensiasi yaitu: Product Leadership, Operational Excellence, Customer Intimacy. Kita tidak bahas hal ini karena nanti jadinya kuliah umum.

Bagi beberapa perusahaan mungkin pendekatan dengan model ini cocok apalagi disertai dengan cara yang benar dalam pengaplikasiannya. Tapi kita juga tidak boleh mengabaikan bahwa ada sejumlah besar perusahaan yang sepertinya tidak pernah berhenti berjuang “antara hidup dan mati” dalam mengangkat derajat perusahaan melalui pendekatan tradisional ini.

Pendekatan cara berpikir puluhan tahun yang lalu berpusat pada pemilik pabrik. Siapa yang memiliki sumber produksi dapat mengendalikan pasar. Karena pada saat itu tidak banyak pemilik pabrik, sehingga produk dengan kwalitas rata-rata pun berhasil diterima oleh pasar.

Lalu jaman berubah, pada saat itu mulai banyak pihak yang memiliki akses pada sumber produksi. Kali ini giliran para distributor yang punya kuasa. Para retailer dapat menekan para produser bila ingin produk atau jasanya disalurkan melalui saluran pemasarannya.

Kini jaman kembali berubah, apalagi ketika daya beli konsumen meningkat. Ditambah faktor teknologi mulai merambah banyak hal, tidak terkecuali pada saluran pemasaran. Karena peran teknologi, produsen dapat langsung menjual barang atau jasanya langsung ke konsumen tanpa perlu melalui perantara lagi. Kalaupun ada rantai distribusinya sudah semakin pendek saja.

Medan pertempuran semakin kompleks dan butuh kecepatan tinggi agar tidak tertinggal dari para pesaing. Kini, konsumen yang pegang kendali. Khususnya, jari jempolnya – The Power of Thumb!

Jadi, belum tentu sesuatu yang berbeda akan menarik konsumen. Demikian pula dengan pendekatan “harga kami lebih murah dari toko sebelah”. Bila pendekatan yang ditawarkan tidak dapat menciptakan “Nilai” (Value) bagi konsumen.

Jadi sebuah bisnis model bukan sekedar “Yang Penting Beda” tapi apakah “Perbedaannya” tersebut dapat menghasilkan sebuah “Nilai” atau tidak. Kalau tidak, yah… sama juga bo’ong. Siap-siaplah kamu dibully konsumen di media sosial.

Btw, saya pernah loh dibully peserta 1 kelas begitu saya menyampaikan kesimpulan di atas. Karena nenek-nenek juga tahu bahwa perusahaan perlu memberikan “Nilai” tambah untuk konsumennya. Tapi ketika saya tanya bagaimana caranya? Pada diem tuh semua… hehehe…

Nah, pada mau tahu apa yang dimaksud dengan “Nilai”?

Yuk gabung dalam komunitas Garudapreneur 4H (Hacker, Hipster, Hustler Hub). Kami membantu mengkolaborasikan bakat dan keterampilan kamu semua sehingga menjadi sebuah Dream Team sebelum bertemu para investor.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Leave a Reply